Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label uncategorized. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Januari 2012

dear bintang,

0 commentfootprint
dear bintang,
entah sejak kapan aku terlalu melankolis
menunggu sinar kerlipmu di bangku tua reyot depan rumahku,
ditemani angin malam yang mencoba merasuki tubuhku,
tunggu saja sampai kapan tubuh ini tak lagi kuat menampung turbulensi angin malam

dear bintang,
taukah kamu?
Aku merindukan kerlingan di malam yang selalu membuatku tepekur
memandangi singgasana tempatmu menggantung yang tak berujung
mensyukuri setiap jengkal tanah yang selalu kupijak
meratapi kisah hidupku sedetik yang lalu,
yang tak pernah aku sanggup memutarnya kembali
menelanjangi gulitanya malam yang pekat memikat
meninabobokan sementara sisa memori yang pelik melilit
dengan sebuah helaan panjang saat kau mengerling manja
aku begitu kecil di bawah sini, bintang

dear bintang,
taukah kamu disini ada yang merindu?
melihat sekumpulanmu membuat mataku terpantul siluet seorang sosok,
sosok yang akhir-akhir ini sering mondar mandir di kepalaku
sosok yang membuat sebuah pertanyaan "mengapa" menjadi tak berguna
karena sulit terdefinisi jawabannya
sosok yang membuat bibirku selalu tersenyum membentuk huruf "ba" tanpa titik di bawahnya

dear bintang,
mana temanmu?
berpipi bulat,marun merona setiap siklus di ujung puncak
kulihat dia malu2 berselimut mega
ah, gak asik

dear bintang,
kenapa kau begitu memesonaku?
menggantung lentik di belantara angkasa
melirik manja, seperti seorang geisha yang malu2 kepada tuannya
merayu para pemujamu tuk tak beranjak selangkahpun tuk memandangimu
kau sungguh sialan!
aku terpesona dibuatmu!

dear bintang,
sebenarnya bagaimana rupamu?
apakah kau memakai topeng selama ini?
topeng yang disebut "jarak"?
hanya tuk menyenangi pemujamu agar kau selalu terlihat cantik?
atau selama ini kuhanya memang melihat bayang kerlingmu yang semu?

dear bintang,
entah sebagaimanapun rupamu, aku terlanjur terpesona
kapan-kapan, bolehkah aku memegang wajahmu?
Tolong sampaikan ijin kepada penciptamu Yang Agung.



dari yang selalu menatapmu pukul tujuh malam,

me.

Kamis, 22 Desember 2011

Mimpi yang Tertunda bukan Terpendam

1 commentfootprint
Berbicara soal mimpi.
Ada sebuah impian sederhana yang sebenarnya bisa dicapai jika saya memang benar-benar berniat untuk itu.
Belajar lagi Deutsch atau Bahasa Jerman,yang bertahun-tahun lamanya mengendap di bawah tumpukan materi-materi perkuliahan sehingga membuatnya menjadi seorang anak tiri yang terlupakan? Ya, bahkan saya sudah melupakannya.
Selain bahasa Indonesia, bahasa asing yang masih familiar sejak kecil adalah bahasa Inggris dan bahasa Arab.
Itupun semuanya tak ada yang benar-benar saya kuasai. Sejak diperkenalkan dengan bahsa jerman di bangku SMA entah kenapa saya jatuh cinta. Apa tanggapan teman-teman? Mungkin saya dianggap freak atau nerd, notabene bahasa jerman pada waktu itu semacam muatan lokal yang tidak begitu penting untuk dipelajari mungkin.Tapi saya suka.
Ketertarikanku mulai membuncah setelah naik kelas 2 SMA.
Bukannya sombong, tapi dulu temen-temen sering menjadikanku sebagai dewi penyelamat untuk ujian jerman. #berasa turun dari kahyangan#
Udah gitu, yang gak remidi mesti orangnya itu-itu aja. Buahahaaha
Apalagi kalo tugas sehari-hari, jawaban satu kelas hampir sama, sampe2 saya terpingkal-pingkal dengan pernyataan bu guru saya itu, sambil kibas poni beliau berkata, "ah, meneliti jawaban yang sama itu membosankan".  Inget gak Lerry Noviatama? Kita berdua ngakak ngedengernya.
Dari ketertarikan itulah tumbuh impian yang saya gantung di atas langit-langit kamar saya. 
Biar tiap hari bisa diliat sebelum memejamkan mata, menanamkannya dalam bunga tidur, dan hal pertama yang kuingat saat kubuka mata.
"Saya pengen menginjakkan kaki di negeri Hitler itu". Berlebihankah?
Mimpi itu sedikit agak tertunda, sedikit? Banyak dink, dengan jadwal kuliah yang unpredictable dan terkadang saya membantu mengajar murid SMA membuat saya berpikir dua kali, eh ehmm lima kali dink buat ikut deutsch course. Gimana kalo jadwalnya bertabrakan, gimana kalo tentornya gak seasyik yang saya bayangkan, terlebih harus ada ekstra dana dari kocek sendiri karena saya gak mau merepotkan lebih banyak dari orang tua. Dilihat dari urgentnya pun, kalo boleh saya katakan itu "sangat tidak mendesak" dan tidak mensupport bidang akademik yang sedang saya tempuh. Mungkin bagi mereka, keinginan saya ini sangat amat tidak penting yah, "ha? buat apaan les jerman?" TAPI SAYA PENGEN. Itu saja alasan yang cukup kuat bagi saya.
Keinget, dulu guru SMP saya pernah nyeletuk, "orang yang pintar adalah orang yang bisa menguasai banyak bahasa". Baru sekarang saya benar-benar memahami, bahasa itu induknya ilmu menurut saya. Segala ilmu itu dibahasakan agar orang bisa memahami ilmu itu sendiri. 
Melalui grafiknya, melalui vektor, aksara, angka, menurut saya semua itu bahasa! Bahasa itu simbol dari pendeskripsian sesuatu.
Coba aja deh, liat temenmu yang bisa cas-cis bahasa asing, mereka kelihatan pintar kan? Karena mereka menguasai simbol, menyusunnya dalam sebuah linear SPOK dan bisa mengkomunikasikan simbol-simbol itu.
Untuk itu, impian saya yang tertunda adalah belajar bahasa jerman, bukan berniat agar terlihat lebih pintar terlebih karena saya ingin sekali belajar ke negeri aslinya.
Mungkin jika saya boleh memahami hadist nabi dengan akal cetek saya "Tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina" itu bisa bermakna tuntutlah ilmu sejauh-jauhnya, sampai kamu bisa melihat dunia dari sisi luar, tidak seperti katak dalam tempurung,  dan bisa bermakna pelajarilah bahasa yang mereka gunakan, dulu kan nabi pake bahasa arab, belajarlah bahasa cina yang mungkin sulit bagi mereka. Yah, itu cuma pemahaman cetek saya aja. Tapi lumayan memperkuat pondasi keyakinan saya, bahwa belajar bahasa lain itu PENTING.





Rabu, 26 Oktober 2011

What the value is?

0 commentfootprint
Ada yang menganggap nilai itu adalah suatu apresiasi dari kerja keras, usaha yang kita lakukan, yang lain bilang nilai merupakan syarat dari lulusnya suatu akademika yang memang harus ditempuh untuk mencapai batas standar tertentu. Tapi aku bilang, nilai adalah suatu formalitas yang tidak sengaja sudah tertanam kuat di pikiran seseorang sejak ia mengenyam bangku sekolah yang pada intinya membuat ruang gerak berpikir seorang itu dibatasi oleh adanya angka-angka yang harus dipenuhi kolom-kolomnya dalam sebuah jurnal yang disebut raport. 
Entah kenapa sejak dari dulu aku tak suka dengan konsep pendidikan di negeri ini. Dimana nilai diagung-agungkan menjadi prasyarat dalam civil academic tertentu. Tak menutup kenyataan sih, dalam dunia realita , akumulasi nilai menjadi basic berkompetensi atau tidaknya seseorang. Tapi itu kan cuma angka, yang bisa dimanipulasi hanya dengan sebuah goresan tinta hitam yang membuatnya menjadi legal, selegal rokok yang beredar meskipun ada himbauan peringatannya. Aneh memang negeri ini.
Sejak keluarnya film Three Idiots , saya jadi berpikir ulang mengenai konsep pendidikan yang selama ini saya tempuh. Ternyata memang nilai sempurna menjadi suatu konsep pikiran yang bertendensi menuhankan. Apapun dilakukan untuk sekedar membuat orang lain atau orang tua menyenangi apa yang kita peroleh. Untuk itu muncul tindakan mencontek atau plagiarisme. Menghalalkan segala cara, bagaimana mendapatkan nilai sempurna.
Gimana sih kalo kita mendalami sesuatu tanpa harus mengejar target yang disebut nilai itu? Sistem sekolah yang di Three Idiots itu bisa lho menjadi suatu contoh bahwa kreativitas otak manusia tak harus dibayang-bayangi dengan nilai yang jelek atau berapakah standard nilai yang harus ditempuh, dan bla bla bla. Terlebih lagi sejak kecil kita dicekoki oleh banyak hal yang menuntut kita harus mengetahui semua pelajaran yang disuguhkan oleh guru kita. Bukankah itu membuat kita tidak fokus ya? Saya memang masih terlalu cetek dalam memahami sistem di negeri ini atau negara asing. Cuma yang saya tahui, di negara asing itu sistem pendidikannya ya kayak moving class, murid mendatangi guru yang mengajarkan pelajaran tertentu yang menjadi minat kita , konsentrasi apa yang kita pengen dalami. Jadi fokus gitulho. Murid yang membutuhkan guru, bukan guru yang membutuhkan murid. Hubungan semacam ini secara kondisional akan melahirkan suatu unggah-ungguh atau ngajeni kepada orang yang memberikan ilmu. Kalau hubungan semacam ini sudah tertanam, gak ada namanya bullying in the class, karena faktor muridnya yang gak sopan terhadap gurunyalah, atau muridnya gak mau diajarlah, atau guru merasa disepelekan lah, dan lainnya.
Saya memang orang yang paling anti kalau mendengar pengumuman nilai sejak dulu, entah itu pembagian raport, pengumuman lomba, apalagi membuka portal IPK yang sekali setiap semester diburu seantero mahasiswa itu. Gak tau, rasanya "ah ngapain sih?", padahal pada intinya saya takut dikecewakan oleh deretan angka-angka kecil berskala 4 itu yang ngomong aja gak bisa, tapi bisa membuat orang "ngomong(-ngomongin)". Yang membuat orang dilabeli si pintar dan si bodoh. Padahal menurut saya perjuangan kita selama mendalami ilmu itu tidak cukup sekedar ditransform ke dalam skala angka.
Banyak hal yang bisa dipelajari tanpa harus duduk diam di dalam kelas. Mendengar tutor mengajar, yang seperti mendongeng bagiku. Tetapi sayangnya, sejak dini kita sudah terlabeli menjadi "murid" dan segala tetek bengek yang melekat di dalamnya.
Entah sampai kapanpun nilai akan tetap menjadi suatu nilai, sesuatu yang "perlu" diperjuangkan dengan harga mahal sejak umur 6tahun.

"Langit begitu luas, kenapa tidak pikiranku? pikiranmu?"

Kamis, 29 September 2011

SELO (Severity and Loyalty)

0 commentfootprint

Gak kerasa alur kegiatan SaKei udah sampai pada tahap SET 1. Weits tunggu dulu, apa sih SET 1 itu? Bagi yang belum ngeh dan paham, yuk kita ngulik SET 1 dari segi  5W+1H. :D
SET 1 merupakan Sebuah event khusus untuk MaRu (MahasiswaRUaarBiasa) untuk mengenal lebih dekat mengenai Ekonomi Islam dari sudut pandang yang menarik dan atraktif. Tidak hanya belajar materi melulu, kegiatan ini dikemas dalam packaging yang unik yaitu dilakukan di alam terbuka agar SaKei lebih dekat dengan alam, kegiatan yang membahana, menyenangkan dan variatif tentunya.

Acara yang dilakukan di Selo, Boyolali ini khusus diperingati kemaren tanggal 24-25 September 2011. Kegiatan ini hanya dilaksanakan 1 x selama setahun lho, jadi sayang banget buat KEIers dan SaKei  lainnya yang gak sempet ikut berbondong-bondong meramaikannya.

kalo liat ini bikin bersyukur terus :)
Meskipun ditempa di udara dingin dengan suhu berkisar 17-20oCelcius. Para peserta dan panitia, alhamdulillah ya, tetap semangat, ceria dan menikmati setiap rangkaian acara. Semangat dan perjuangan mereka terbayar sebanding dengan lokasi nan elok, yang langsung menghadap view gunung Merapi bekas erupsi dan dipunggungi oleh gunung Merbabu yang berlereng-lereng. Dari lokasi yang begitu menantang, memacu adrenalin, membuat cenut-cenut kepala (karena di udara yang sedingin itu, anehnya matahari bersinar terik membakar ubun-ubun) dan merontokkan bulu roma, tercetuslah outbond hebring untuk mengukur seberapa tangguhkah mental SaKei ini dalam menghadapi kerasnya kehidupan. (lebay sithik :D)

Ibarat makanan pembuka, acara semacam ini menantang mental Sakei untuk bisa lebih akrab, bisa bekerja sama dan mengetahui sedikit karakteristik peserta lainnya yang mungkin ke depannya agar bisa terbentuk tim solid dalam membumikan Ekonomi Islam di kampus pada khususnya dan masyarakat pada umumnya.

ini meremmelek gara2 anginnya gedhe lho :D
Kelelahan yang tak terkira, tugas menggunung yang menanti untuk dikerjakan bukanlah suatu alasan untuk tidak menikmati kebersamaan yang jarang terjadi ini. Seperti kata musisi Ipang, “kesempatan seperti ini tidak bisa dibeli”. Keep SPIRIT dan salam GEORGE!
postingan LaRut GERAI KEI oleh Aulia  Fauziyah

Sabtu, 10 September 2011

A hard Rock Journey

0 commentfootprint

Sebenarnya hari ini saya sangat malas untuk beraktifitas keluar kos. Ya, thx God its SATURDAY!
Dalam time table yang saya tempel, gak ada istilah kegiatan yang berbau akademik atau apalah di hari sabtu, ITs MY TIME!
Sayang, kenyataan memang selalu tak sejalan dengan angan. Semenjak tiba di solo beberapa hari yang lalu, tugas kuliah sudah banyak menjejali time table saya.
Itu membuat saya harus begadang sampe tengah malem, dan bangun pagi karena kebanyakan kuliah saya mulai jam 7. Ah, holycrap!
Otomatis, sabtu ini ingin sekali hibernasi seharian, tapi malangnya saya "diajak" survey ke selo yang sebenarnya setengah hati saya lakukan. Jujur, saya capek sekali.
Padahal saya sudah merasa nolak, tetep aja bisa dibujuk. Ahh, gak tega. :(
Dan akhirnya, pagi2 kami berangkat ke selo beriringan motor.
Sungguh, The best scenery in the world is the scenery of nature!!
dari atas jalan tanjakan
mejeng dulu sebelum ngetrack
muka saya udah cukup melas belum? :|

Pemandangannya emang indah bangett.
Tapi ini yang bikin saya remuk dan tepar malemnya, notabene saya itu bukan track walker. Pelintas alam.
Medan yang kami lalui bener2 eugh bikin sekujur tubuh mandi debu, sinar matahari, dan ahhhh unsaid bangett. Apalagi di atas, angin bertiup kencang, serasa seperti badai gunung.
Ini jalan hampir 90 derajat lhoo, disni pas kena badai gunungnya
ekspresi kayak belum pup setaon

ekspresi cacing kepanasan
Apalagi saya gampang terkena iritasi kulit. :( Completed. Ini sebuah perjalanan yang bagi saya rock n roll bener deh, emang aslinya selo itu dalam bahasa indonesia berarti batu. Untung saya pulang2 gak mati berdiri dikutuk jadi batu beneran. ah, holycrap! #nahankakiyangkakukaku

Jumat, 02 September 2011

Percakapan Dua Bilik Hati

2 commentfootprint
(Hening)

BilikHati1 : Sudah beberapa kali aku bilang ke kamu, Kapan tuk berhenti stalking?

BilikHati2 : (menyergah) i m not stalking, i am searching.

BilikHati1 : Hellooo kamu segumpal-darah, bisakah kamu tidak terus2an mengetik namanya dalam search-list di twittermu? lihatlah aku, aq mengirimkan nurani kepada akal untuk berhenti mengetahuinya lebih jauh. Kamu pernah dengar belum lirik lagu ini?
"would it be better if we were never near
knowing you more has always been my fear
let’s say goodbye to find a better place
before it’s too late"
BilikHati2 : iya, aku tau aku salah, have u ever felt like this before? kau berbicara seakan2 tak punya nurani.

BilikHati1 : (berang) bukankah kau sudah tau semua fakta yang membelalakan kardiovaskulermu! itu kurang cukup bagimu, ha? The best thing about the past is that it shows you what 'not' to bring into your future.
coz we are symmetrical.
SebelahHati2 : maavkan aku, aku memang tak setangguh dirimu, aku sudah cukup terluka. tak lihatkah dindingku ini? dia banyak berlubang karena sebuah masa. Seperti asteroid2 yang menghujani, bopeng dimana-mana, aku tak cukup punya mesosfer untuk melindugi diriku sendiri.

BilikHati1 : Kau tak sendirian mate, tak lihat kau kalo kita sama identik? kita simetris. Kau merasa sakit, aku pun juga, kau bahagia aku pun merasa. we are the same. Hanya saja nurani kita berbeda. Aku berusaha untuk kuat, untuk tangguh menghiburmu saat kau mulai runtuh, bagaimana jika kita sama2 diciptakan lemah? Nasib kita mungkin akan di tangan sebuah ujung sembilu. Oleh karena itulah, aku yang banyak berperan untuk mengirim nurani ke akal tuk berpura2 "kita" baik2 saja.
Thats why we are symmetrical, suatu saat aku akan tergantikan oleh bilik lain, yang lebih besar tuk merangkulmu, dan mengayomimu lebih dari aku.

BilikHati2 : (tersenyum)

Selasa, 09 Agustus 2011

Its Different

3 commentfootprint
Seharusnya kita tak bertemu lagi. Sengaja atau tidak sengaja. Sama sajalah bagiku. Karena itu akan membuatku mengulangi dari awal apa yang sedang saya perbaiki.
Toh memang dunia ini sempit, kalo saja bersua cukup tahu kamu adalah orang asing atau jika kau tak rela aku anggap saja kau orang lama yang telah bereinkarnasi.

Senin, 08 Agustus 2011

Melawan Angin

0 commentfootprint
Saya mempunyai habit baru sekarang. Sebenarnya bukan hal baru juga. Setiap pulang dari Solo pun hal pertama yang saya lakukan jika keluar rumah tepatnya. Melawan Angin. Melaju dengan kecepatan maksimum yang bisa saya lakukan dengan motor matic hitam yang tak lagi rupawan. Atau kadang berlomba dengan siput yang seraya mengejek saya dengan benak yang terurai tak menentu.
Saya suka, ketika libasan angin mengenai jilbab yang membuatnya seperti geraian bendera merah putih yang dikerek di musin kemarau, senin kamis berkibarnya. Saya suka, seperti semua pikiran yang menjejali bilik memoriku ini terbang bersama angin dan menyisakan kehampaan yang luar biasa hebat hingga kadang saya limbung kemanakah arah jalan yang kutelusuri. Tapi saya suka. 
Melaju dengan kecepatan maksimum itu suatu kenikmatan tersendiri bagi saya, saya bebas berekspresi bagaimana bertindak dengan tanpa menghiraukan siapa kanan kiri yang menyalak klaksonnya. Ini yang saya butuhkan suatu kesendirian yang menyelimuti, mengurai kata yang kadang membuat saya bermimik dan berdialog sendiri. Kadang tersenyum, merutuk, bahkan menitikan air mata, tak sampai ku berani berteriak di tengah jalan, tak kerenlah dikejar2 polisi dan digiring ke RSJ ditatap bak diarak. oh...
Atau melaju dengan kecepatan yang bisa ditandingi seekor cheetah merangkak sekalipun, ini membuat saya lebih jeli memperhatikan bagaimana sebuah kehidupan itu melaju dengan percepatan yang orang lain tak hiraukan. Pedulikah seorang pengendara dengan seorang bapak yang berjalan itu, atau gelembung2 sabun yang dibuat tukang gelembung, atau dua sejoli yang asyik masyuk mojok di bawah patung, penjaja di pinggir jalan atau pasar monopolistik dadakan di pusat kota yang hanya ramdhan ada? Dinamika. Lihat, resapi, kehidupan terbentuk dari berbagai macam spektrum warna.  oh...
Ini yang membuat saya semakin jatuh cinta. Sore hari di kota magelang, dengan hiasan merah jingganya dan angin yang memburu sangatlah pas untuk Melawan Angin.
Melawan segenap luka yang menggerogoti, menyeret paksa keluar dari palung yang melabirin, dan memburunya tuk dihempaskan angin yang terbentuk dari luapan emosi dan kecepatan si matic . Aku suka Melawan Angin ini.

Blog Walking

0 commentfootprint
Blog Walking merupakan suatu kegiatan yang bikin saya banyak mendapati orang-orang hebat dengan pikirannya yang luar biasa. Begitu menganga saya dibuatnya, sungguh luar biasa mereka yang lentik dalam menulis memainkan kata menjadi sebuah pemikiran yang sehr bekannt aka kereeeen.
Entah neuron transmitter apa sih yang digunain, tapi sebuah pemikiran itu pun tak instan didapat tentunya. Pengalaman memang guru yang paling berharga, kadang tak sekedar murah untuk mendapatkan sebuah pengalaman, tak sekedar pengorbanan yang besar untuk mencapai suatu titik pemahaman akan hal tertentu. Subhanallah, Maha Suci Allah yang menciptakan makhluk2 keren seperti mereka. :))
Saya selalu terkesan terhadap mereka yang berani menyuarakan , menuliskan pikiran2 mereka ke dalam bentuk apapun.
aaaah saya jatuh cinta pada permainan kata. :))


Beri saya seistana buku, kan kutaklukan dunia. :D
 

A Walk to Remember Copyright © 2012 Design by Ipietoon Blogger Template